Rockefeller, pada usia 60 tahun menderita kanker di perutnya, dan dokter berkata bahwa tiga bulan lagi ia akan meninggal dunia. Lalu ia berkata, "Buat apa kekayaanku yang bermiliar-miliar, dan buat apa rumah-rumahku yang mewah?" Lalu, ia datang kepada Tuhan dan berkata, "Tuhan, dahulu saya hanya mencari uang, tetapi sekarang saya mau memberi semuanya." Kemudian ia mulai membangun rumah sakit kristen, memberikan uangnya kepada hamba-hamba Tuhan yang pergi menginjil di Afrika, dan mengirim utusan-utusan injil. Ia berkata bahwa sebelum meninggal dunia, ia mau memberi dahulu supaya dapat meninggalkan hal-hal yang baik. Tetapi setelah tiga bulan, ia tetap hidup, justru malah ia merasa semakin sehat. Lalu ia pergi memeriksakan diri pada dokter, dan dokter berkata bahwa kanker itu telah lenyap. Puji Tuhan, ia sembuh bukan karena di doakan oleh pendeta, melainkan karena memberi. Dari mana datangnya kanker? Dari sifatnya yang kikir. Dari mana datang kesembuhan, dari sifat yang suka memberi.
Memberi bukanlah berarti hanya dalam bentuk uang. Banyak orang yang salah paham, dan jika ada seorang pendeta yang berkotbah mengenai memberi, ia di katakan mata duitan. Memberi tidak hanya berarti memberi uang, tetapi juga bisa berupa kasih, perhatian, waktu, tenaga, pikiran dll.
Martin Luther pernah berkata, "Bertobat itu artinya pertama-tama membuka hati, kemudian membuka dompet."
"... Adalah lebih berbahagia memberi dari pada menerima" (Kisah Para rasul 20:35)
Kamis, 16 Mei 2013
Hati Yang Berkorban
Pada suatu hari, di sebuah kelas sekolah minggu, ada seorang anak perempuan yang akan pulang kerumahnya karena tidak ada lagi tempat baginya di kelas itu. Tiba-tiba seorang guru melihatnya, dan murid tadi dikejarnya, sambil berkata, "Nak jangan pulang, bapak akan mencarikan tempat untukmu."
Lalu anak itu digendongnya serta dicarikan tempat dikelas yang memang sudah menjadi terlalu kecil karena padatnya. Sambil mengusap butiran-butiran air mata yang jatuh membasahi pipi anak yang manis itu, si guru berkata sambil menghibur, "Kami berharap lain kali gereja akan menyediakan ruang kelas yang lebih besar."
Setelah pulang kerumah, anak itu segera menceritakan persoalan itu kepada orangtuanya. Orangtuanya lalu menasihatinya supaya menabung sehingga dapat disumbangkan untuk memperbesar kelas sekolah minggu. Begitulah gadis kecil itu mulai menabung dengan setia dan penuh sukacita. Namun, beberapa hari kemudian anak itu meninggal dunia karena sakit.
Setelah upacara pemakaman selesai, ayah gadis itu menceritakan kepada Dr. Russel Conwell segala sesuatunya dan menyerahkan uang tabungan anaknya yang hanya berjumlah 57 sen. Sejak saat itu, panitia pembangunan gereja dibentuk dengan modal uang sebesar 57 sen. Tuhan lalu menggerakkan hati umat-NYA begitu rupa, sehingga dalam tempo yang singkat dapat dikumpulkan uang tunai sejumlah 10.000 dolar. Beberapa waktu kemudian, sebuah gedung gereja yang besar, lengkap dengan ruang-ruang kelas yang lebar dan nyaman untuk sekolah minggu telah didirikan. Pada akhirnya gedung-gedung perguruan tinggi dan rumah sakit di Philadelphia yang megah juga dapat didirikan.
Persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan ketulusan hati, tidak akan terbuang percuma.
"... supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1)
Lalu anak itu digendongnya serta dicarikan tempat dikelas yang memang sudah menjadi terlalu kecil karena padatnya. Sambil mengusap butiran-butiran air mata yang jatuh membasahi pipi anak yang manis itu, si guru berkata sambil menghibur, "Kami berharap lain kali gereja akan menyediakan ruang kelas yang lebih besar."
Setelah pulang kerumah, anak itu segera menceritakan persoalan itu kepada orangtuanya. Orangtuanya lalu menasihatinya supaya menabung sehingga dapat disumbangkan untuk memperbesar kelas sekolah minggu. Begitulah gadis kecil itu mulai menabung dengan setia dan penuh sukacita. Namun, beberapa hari kemudian anak itu meninggal dunia karena sakit.
Setelah upacara pemakaman selesai, ayah gadis itu menceritakan kepada Dr. Russel Conwell segala sesuatunya dan menyerahkan uang tabungan anaknya yang hanya berjumlah 57 sen. Sejak saat itu, panitia pembangunan gereja dibentuk dengan modal uang sebesar 57 sen. Tuhan lalu menggerakkan hati umat-NYA begitu rupa, sehingga dalam tempo yang singkat dapat dikumpulkan uang tunai sejumlah 10.000 dolar. Beberapa waktu kemudian, sebuah gedung gereja yang besar, lengkap dengan ruang-ruang kelas yang lebar dan nyaman untuk sekolah minggu telah didirikan. Pada akhirnya gedung-gedung perguruan tinggi dan rumah sakit di Philadelphia yang megah juga dapat didirikan.
Persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan ketulusan hati, tidak akan terbuang percuma.
"... supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1)
Selasa, 14 Mei 2013
Kasih Sejati melupakan diri
Putri Allice dari Inggris wafat setelah menderita sakit beberapa hari. Perdana menteri William Gladstone, ketika mengumumkan berita dukacita itu didepan parlemen dan menceritakan sebuah cerita yang mengharukan.
Beberapa waktu lalu sebelum sang Putri mangkat, anak perempuannya terserang difteria yang sangat gawat. Para dokter memperingatkan Putri Allice agar jangan memeluk dan mencium anaknya, karena nafas si anak bisa membahayakan jiwa sang ibu.
Suatu hari si kecil sesak napas, sang putri pun panik, apa yang harus ia lakukan? Lalu tanpa mempedulikan ancaman bahaya apapun, sang putri memeluk anaknya itu agar tidak mati lemas. Ia memeluk erat anaknya itu sambil menitikkan air mata. Sambil tersengal-sengal berjuang melawan maut, si anak berkata, "Mama... ciumlah aku jika kau memang menyayangiku." Tanpa berpikir panjang lagi, ibunya (Putri Allice) mencium pipi anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
Dan benar saja, beberapa hari kemudian sang putri pun juga terjangkit difteria yang kemudian menghantarkannya pulang ke rumah Tuhan.
(Kidung Agung 8:7) > Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.
Beberapa waktu lalu sebelum sang Putri mangkat, anak perempuannya terserang difteria yang sangat gawat. Para dokter memperingatkan Putri Allice agar jangan memeluk dan mencium anaknya, karena nafas si anak bisa membahayakan jiwa sang ibu.
Suatu hari si kecil sesak napas, sang putri pun panik, apa yang harus ia lakukan? Lalu tanpa mempedulikan ancaman bahaya apapun, sang putri memeluk anaknya itu agar tidak mati lemas. Ia memeluk erat anaknya itu sambil menitikkan air mata. Sambil tersengal-sengal berjuang melawan maut, si anak berkata, "Mama... ciumlah aku jika kau memang menyayangiku." Tanpa berpikir panjang lagi, ibunya (Putri Allice) mencium pipi anaknya itu dengan penuh kasih sayang.
Dan benar saja, beberapa hari kemudian sang putri pun juga terjangkit difteria yang kemudian menghantarkannya pulang ke rumah Tuhan.
(Kidung Agung 8:7) > Air yang banyak tak dapat memadamkan cinta, sungai-sungai tak dapat menghanyutkannya. Sekalipun orang memberi segala harta benda rumahnya untuk cinta, namun ia pasti akan dihina.
Dia mati untukku
Pada abad 17, Oliver Cromwell (1599-1658), seorang jendral Inggris, menghukum mati seorang prajurit. Hukuman mati itu akan dilaksanakan pada waktu berbunyinya lonceng yang menunjukkan dimulainya jam malam, tetapi ternyata lonceng itu tidak kunjung berbunyi. Setelah diselidiki, ternyata tunangan prajurit itu sudah naik ke atas menara tempat lonceng itu berada dan dengan sekuat tenaga ia memegangi bandul lonceng itu agar tidak berdentang. Gadis itu kemudian diserahkan kepada Cromwell untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan penuh ketabahan, gadis itu menjelaskan bahwa ia berani menanggung risiko itu demi orang yang dikasihinya, sambil memperlihatkan tangannya yang penuh luka dan darah. Hati Cromwell tersentuh lalu berkata, "Baiklah, karena pengorbananmu, tunangannmu akan aku bebaskan!" Dengan bercucuran air mata, gadis itu kemudian memeluk erat tunangannya tersebut karena terharu bahagia.
Seperti prajurit yang bersalah itu, kita adalah pemberontak-pemberontak yang menentang Allah dan kita semua terancam hukuman mati. Tetapi Yesus sangat mengasihi kita, sehingga Dia mau menggantikan kita. Dia telah membayar mahal untuk menyelamatkan kita. Jika ada orang-orang yang ragu dan bertanya kepada-NYA sesudah Ia bangkit, Yesus menunjukkan kepada mereka tangan-NYA yang berlubang bekas dipaku. Tangan-tangan Yesus yang penuh dengan luka itu adalah bukti yang menunjukkan bahwa Dia telah memberikan diri-NYA untuk semua umat manusia. Pengorbanan-NYA yang berarti lonceng kematian tidak akan berdentang bagi setiap orang yang percaya kepada-NYA.
(Roma 5:8)
Seperti prajurit yang bersalah itu, kita adalah pemberontak-pemberontak yang menentang Allah dan kita semua terancam hukuman mati. Tetapi Yesus sangat mengasihi kita, sehingga Dia mau menggantikan kita. Dia telah membayar mahal untuk menyelamatkan kita. Jika ada orang-orang yang ragu dan bertanya kepada-NYA sesudah Ia bangkit, Yesus menunjukkan kepada mereka tangan-NYA yang berlubang bekas dipaku. Tangan-tangan Yesus yang penuh dengan luka itu adalah bukti yang menunjukkan bahwa Dia telah memberikan diri-NYA untuk semua umat manusia. Pengorbanan-NYA yang berarti lonceng kematian tidak akan berdentang bagi setiap orang yang percaya kepada-NYA.
(Roma 5:8)
Kotak Hitam dan Kotak Emas
Ada di tanganku dua buah kotak yang telah Tuhan berikan padaku untuk dijaga. Tuhan berkata, "Masukkan semua penderitaanmu kedalam kotak yang berwarna hitam dan masukkan lah semua kebahagiaanmu kedalam kotak yang berwarna emas." Lalu aku melakukan apa yang Tuhan katakan. Setiap kali mengalami kesedihan, maka aku letakkan kesedihan itu kedalam kotak hitam, sebaliknya jika aku bergembira, aku meletakkan kegembiraanku itu ke dalam kotak yang berwarna emas. Tapi anehnya, semakin hari kotak berwarna emas itu semakin bertambah berat sedangkan kotak berwarna hitam tetap saja ringan sama seperti semula.
Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam. Dan kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar didasar kotak hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan kedalamnya selalu jatuh ke luar. Aku tunjukan lubang itu kepada Tuhan dan bertanya, "Kemanakah perginya semua penderitaanku?" Tuhan tersenyum hangat padaku dan menjawab, "Anak-KU, semua penderitaanmu berada pada-KU." Aku bertanya kembali, "Tuhan, kenapa Engkau memberikan dua kotak kepadaku? Kotak emas dan kotak hitam yang berlubang." "Anak-KU, kotak emas ku berikan padamu agar kau senantiasa menghitung rahmat yang AKU berikan kepadamu, sedangkan kotak hitam itu KU-berikan agar kau melupakan penderitaanmu."
Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan. Campakkanlah penderitaanmu agar kau melupakannya.
Saat Tuhan belum menjawab doamu, Ia menambah kesabaranmu...
Saat Tuhan menjawab doamu, Ia menambah imanmu...
Saat Tuhan tidak menjawab doamu, Ia memiliki rencana indah untukmu...
Dan saat Tuhan menjawab yang bukan doa-doamu, Ia memilih yang terbaik untukmu...
Dengan penuh rasa penasaran, aku membuka kotak berwarna hitam. Dan kini aku tahu jawabannya. Aku melihat ada lubang besar didasar kotak hitam itu, sehingga semua penderitaan yang aku masukkan kedalamnya selalu jatuh ke luar. Aku tunjukan lubang itu kepada Tuhan dan bertanya, "Kemanakah perginya semua penderitaanku?" Tuhan tersenyum hangat padaku dan menjawab, "Anak-KU, semua penderitaanmu berada pada-KU." Aku bertanya kembali, "Tuhan, kenapa Engkau memberikan dua kotak kepadaku? Kotak emas dan kotak hitam yang berlubang." "Anak-KU, kotak emas ku berikan padamu agar kau senantiasa menghitung rahmat yang AKU berikan kepadamu, sedangkan kotak hitam itu KU-berikan agar kau melupakan penderitaanmu."
Ingat-ingatlah semua kebahagiaanmu agar kau senantiasa merasakan kebahagiaan. Campakkanlah penderitaanmu agar kau melupakannya.
Saat Tuhan belum menjawab doamu, Ia menambah kesabaranmu...
Saat Tuhan menjawab doamu, Ia menambah imanmu...
Saat Tuhan tidak menjawab doamu, Ia memiliki rencana indah untukmu...
Dan saat Tuhan menjawab yang bukan doa-doamu, Ia memilih yang terbaik untukmu...
Senin, 13 Mei 2013
Keranjang Arang dan Alkitab
Seorang kakek hidup di suatu perkebunan di dekat pegunungan sebelah timur negara bagian Kentucky (Amerika) dengan cucu laki-lakinya yang masih kecil. Setiap pagi kakek bangun lebih awal dan membaca Alkitab di meja makan, di dapurnya. Cucu laki-laki itu ingin sekali seperti kakeknya dan mencoba untuk menirunya dalam cara apapun semampunya.
Suatu hari sang cucu bertanya, "kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan selama ini tapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?"
Dengan tenang sang kakek mengambil keranjang tempat arang yang sudah sangat jorok, melubangi bagian bawah keranjang itu lalu menjawab, "Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuh dengan air."
Maka sang cucu pun melakukan seperti yang dikatakan kakeknya, tetapi semua air habis menetes sebelum ia tiba didepan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi."
Maka ia menyuruh cucunya kembali lagi ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap saja lagi-lagi keranjang itu kosong sebelum sampai dirumahnya. Dengan terengah-engah dia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang bagian bawahnya bolong, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Melihat itu sang kakek berkata, "Aku tidak mau ember itu, aku hanya mau kau mengambil air dengan keranjang arang itu. Ayolah jangan menyerah begitu saja, usahamu belum cukup."
Kemudian sang kakek pergi keluar pintu untuk mengamati usaha cucunya itu. Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil sekali, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa dirinya bisa seperti kakeknya itu, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air itu tetap saja habis sebelum dia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek, keranjang itu sudah kosong lagi.
Sambil terengah-engah ia berkata, "Lihat kek, percuma!" "Jadi kamu pikir percuma?" kakek balik bertanya "lihatlah keranjangnya" lanjut kakek. Kemudian sang cucu melihat keranjang arang yang dipegangnya itu, ia melihat kedalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah, dari keranjang arang tua yang kusam dan kotor menjadi keranjang yang BERSIH LUAR dan DALAM.
"Cucuku, itulah yang terjadi ketika kamu membaca Alkitab. Kamu memang tidak bisa memahami ataupun mengingat semuanya, tapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah luar-dalam karena itu adalah Karunia Allah.
Suatu hari sang cucu bertanya, "kakek! Aku mencoba untuk membaca Alkitab seperti yang kakek lakukan selama ini tapi aku tidak memahaminya, dan apa yang aku pahami aku lupakan secepat aku menutup buku. Apa sih kebaikan dari membaca Alkitab?"
Dengan tenang sang kakek mengambil keranjang tempat arang yang sudah sangat jorok, melubangi bagian bawah keranjang itu lalu menjawab, "Bawa keranjang ini ke sungai dan bawa kemari lagi penuh dengan air."
Maka sang cucu pun melakukan seperti yang dikatakan kakeknya, tetapi semua air habis menetes sebelum ia tiba didepan rumahnya. Kakek tertawa dan berkata, "Lain kali kamu harus melakukannya lebih cepat lagi."
Maka ia menyuruh cucunya kembali lagi ke sungai dengan keranjang tersebut untuk dicoba lagi. Sang cucu berlari lebih cepat, tetapi tetap saja lagi-lagi keranjang itu kosong sebelum sampai dirumahnya. Dengan terengah-engah dia berkata kepada kakeknya bahwa mustahil membawa air dari sungai dengan keranjang yang bagian bawahnya bolong, maka sang cucu mengambil ember sebagai gantinya. Melihat itu sang kakek berkata, "Aku tidak mau ember itu, aku hanya mau kau mengambil air dengan keranjang arang itu. Ayolah jangan menyerah begitu saja, usahamu belum cukup."
Kemudian sang kakek pergi keluar pintu untuk mengamati usaha cucunya itu. Cucunya yakin sekali bahwa hal itu mustahil sekali, tetapi ia tetap ingin menunjukkan kepada kakeknya bahwa dirinya bisa seperti kakeknya itu, biar sekalipun ia berlari secepat-cepatnya, air itu tetap saja habis sebelum dia sampai ke rumah. Sekali lagi sang cucu mengambil air ke dalam sungai dan berlari sekuat tenaga menghampiri kakek, tetapi ketika ia sampai didepan kakek, keranjang itu sudah kosong lagi.
Sambil terengah-engah ia berkata, "Lihat kek, percuma!" "Jadi kamu pikir percuma?" kakek balik bertanya "lihatlah keranjangnya" lanjut kakek. Kemudian sang cucu melihat keranjang arang yang dipegangnya itu, ia melihat kedalam keranjangnya dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa keranjang itu sekarang berbeda. Keranjang itu telah berubah, dari keranjang arang tua yang kusam dan kotor menjadi keranjang yang BERSIH LUAR dan DALAM.
"Cucuku, itulah yang terjadi ketika kamu membaca Alkitab. Kamu memang tidak bisa memahami ataupun mengingat semuanya, tapi ketika kamu membacanya lagi, kamu akan berubah luar-dalam karena itu adalah Karunia Allah.
Minggu, 12 Mei 2013
Alkitab dan Ferari
Ada seorang yang kaya raya memiliki seorang anak laki-laki dan waktu itu si anak dijanjikan oleh papanya, kalau dia bisa lulus sarjana dengan nilai yang bagus (tentunya diatas rata-rata 7 semua), akan diberi hadiah sesuai dengan permintaan anaknya itu, dan sang anak meminta untuk dibelikan mobil ferari.
Singkat cerita, setelah anak itu lulus dengan nilai yang sangat memuaskan, papanya datang kepada anaknya dan menyerahkan sebuah buku tebal berwarna cokelat dan mengatakan, "Nak, buku ini sangat berharga sekali, melebihi segala apa pun di dunia." Sambil menyodorkan buku yang di pegangnya.
Tetapi apa reaksi anaknya? Dia memandangi buku yang bertuliskan 'Alkitab' di sampul bagian depannya. Dia sangat marah dan membanting Alkitab itu sambil berkata, "saya tidak butuh buku itu, yang saya butuhkan mobil ferari, papa bohong, omongan papa gak bisa dipercaya lagi." Dan tanpa pikir panjang lagi, kemudian anak itu pergi meninggalkan rumahnya tanpa pamit dan tidak kembali.
Selama 5 tahun anak laki-laki itu hidup dalam kepahitan dan penderitaan. Setelah 5 tahun berlalu, tiba-tiba dia mendapat kabar bahwa papanya sudah dipanggil oleh Tuhan. Dengan berat hati ia pun kembali ke rumahnya, pada waktu itu ia masuk ke kamarnya, dia mengamati ruangan itu, tidak ada yang berubah selama 5 tahun terakhir ini, letak tempat tidur dan meja belajarnya masih tetap berada ditempatnya, bahkan Alkitab yang pernah diberikan papanya masih bagus dan tersusun rapi di rak tempat bukunya, kemudian dia mencoba membuka Alkitab itu secara perlahan, saat membuka Alkitab itu, laki-laki itu menemukan secarik kertas yang ternyata adalah tulisan dari papanya yang menceritakan bagaimana awal perjuangannya memulai bisnis hingga berhasil.
Laki-laki itu pun mulai menangis terharu, kemudian dia membuka-buka lagi halaman demi halaman dan pada pertengahan dari lembaran Alkitab itu, ia menemukan selembar cek yang memiliki harga yang sama dengan harga mobil ferari. Anak itu kemudian menangis, namun sudah terlambat, dia sudah menderita selama 5 tahun dan lagi ayahnya sudah di panggil oleh Tuhan.
Langganan:
Postingan (Atom)