Pada suatu hari, di sebuah kelas sekolah minggu, ada seorang anak perempuan yang akan pulang kerumahnya karena tidak ada lagi tempat baginya di kelas itu. Tiba-tiba seorang guru melihatnya, dan murid tadi dikejarnya, sambil berkata, "Nak jangan pulang, bapak akan mencarikan tempat untukmu."
Lalu anak itu digendongnya serta dicarikan tempat dikelas yang memang sudah menjadi terlalu kecil karena padatnya. Sambil mengusap butiran-butiran air mata yang jatuh membasahi pipi anak yang manis itu, si guru berkata sambil menghibur, "Kami berharap lain kali gereja akan menyediakan ruang kelas yang lebih besar."
Setelah pulang kerumah, anak itu segera menceritakan persoalan itu kepada orangtuanya. Orangtuanya lalu menasihatinya supaya menabung sehingga dapat disumbangkan untuk memperbesar kelas sekolah minggu. Begitulah gadis kecil itu mulai menabung dengan setia dan penuh sukacita. Namun, beberapa hari kemudian anak itu meninggal dunia karena sakit.
Setelah upacara pemakaman selesai, ayah gadis itu menceritakan kepada Dr. Russel Conwell segala sesuatunya dan menyerahkan uang tabungan anaknya yang hanya berjumlah 57 sen. Sejak saat itu, panitia pembangunan gereja dibentuk dengan modal uang sebesar 57 sen. Tuhan lalu menggerakkan hati umat-NYA begitu rupa, sehingga dalam tempo yang singkat dapat dikumpulkan uang tunai sejumlah 10.000 dolar. Beberapa waktu kemudian, sebuah gedung gereja yang besar, lengkap dengan ruang-ruang kelas yang lebar dan nyaman untuk sekolah minggu telah didirikan. Pada akhirnya gedung-gedung perguruan tinggi dan rumah sakit di Philadelphia yang megah juga dapat didirikan.
Persembahan yang dipersembahkan kepada Tuhan dengan ketulusan hati, tidak akan terbuang percuma.
"... supaya kamu mempersembahkan tubuhmu sebagai persembahan yang hidup, yang kudus dan yang berkenan kepada Allah: itu adalah ibadahmu yang sejati" (Roma 12:1)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar