Pada abad 17, Oliver Cromwell (1599-1658), seorang jendral Inggris, menghukum mati seorang prajurit. Hukuman mati itu akan dilaksanakan pada waktu berbunyinya lonceng yang menunjukkan dimulainya jam malam, tetapi ternyata lonceng itu tidak kunjung berbunyi. Setelah diselidiki, ternyata tunangan prajurit itu sudah naik ke atas menara tempat lonceng itu berada dan dengan sekuat tenaga ia memegangi bandul lonceng itu agar tidak berdentang. Gadis itu kemudian diserahkan kepada Cromwell untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya. Dengan penuh ketabahan, gadis itu menjelaskan bahwa ia berani menanggung risiko itu demi orang yang dikasihinya, sambil memperlihatkan tangannya yang penuh luka dan darah. Hati Cromwell tersentuh lalu berkata, "Baiklah, karena pengorbananmu, tunangannmu akan aku bebaskan!" Dengan bercucuran air mata, gadis itu kemudian memeluk erat tunangannya tersebut karena terharu bahagia.
Seperti prajurit yang bersalah itu, kita adalah pemberontak-pemberontak yang menentang Allah dan kita semua terancam hukuman mati. Tetapi Yesus sangat mengasihi kita, sehingga Dia mau menggantikan kita. Dia telah membayar mahal untuk menyelamatkan kita. Jika ada orang-orang yang ragu dan bertanya kepada-NYA sesudah Ia bangkit, Yesus menunjukkan kepada mereka tangan-NYA yang berlubang bekas dipaku. Tangan-tangan Yesus yang penuh dengan luka itu adalah bukti yang menunjukkan bahwa Dia telah memberikan diri-NYA untuk semua umat manusia. Pengorbanan-NYA yang berarti lonceng kematian tidak akan berdentang bagi setiap orang yang percaya kepada-NYA.
(Roma 5:8)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar